Plagiarism Checker X Originality Report

Plagiarism Quantity: 31% Duplicate

Date Thursday, January 03, 2019
Words 826 Plagiarized Words / Total 2669 Words
Sources More than 79 Sources Identified.
Remarks Medium Plagiarism Detected - Your Document needs Selective Improvement.

PENGETAHUAN ORANGTUA DAN PERILAKU KESEHATAN ANAK YANG MENGALAMI PENYAKIT ISPA Parent knowledge and health behavior of children who have an accute respiratory Infection Dorce Sisfiani Sarimin ¹, Semuel Tambuwun ², Suci Laila Tonote ³ 1,2,3 Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado Email : sisarimin@yahoo.com ABSTRACT Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the diseases that often affects children. The data found in the Manando Minanga Malalayang Public Health Center in the last year from January to December 2017 were 364 cases.

One of the factors that causes ARI in children is mother's knowledge. The purpose of this study was to analyze the relationship of parental knowledge with health behaviors in children with ARI. This type of research is observational analytic conducted on 36 respondents. The measuring instrument used is a questionnaire. Hypothesis testing used Chi-Square (x²) with a significance level (a) <0.05, and a significant level> 95%.

The results of the study found that from 17 respondents who had less knowledge of ARI with less behavior there were 11 respondents (30.5%) and 6 respondents (2.16%) knowledge of parents with sufficient behavior. Of the 19 respondents who had good knowledge but lack of health behavior there was 1 respondent (0.36%), good parental knowledge but enough behavior there were 7 respondents (2.52) and good parental knowledge and good behavior there were 11 respondents (30, 5). Chi-square statistical analysis obtained the value of p = value of 0,000, meaning that p = value <0.05

so that there is a relationship between parents' knowledge and health behavior in children with ARI. Suggestions for parents are expected to be willing to increase knowledge about ARI so that awareness of the importance of health for children so as not to get ARI. Keywords: ARI, Knowledge, Health Behavior ABSTRAK Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang anak-anak. Data yang ditemukan di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manando satu tahun terakhir ini dari bulan Januari sampai dengan Desember 2017 sebanyak 364 kasus.

Salah satu faktor penyebab terjadinya ISPA pada anak-anak adalah pengetahuan ibu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan orang tua dengan perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional yang dilakukan terhadap 36 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Uji hipotesa yang digunakan Chi-Square (x²) dengan derajat kemaknaan (a)<0,05, dan tingkat signifikan > 95%.

Hasil penelitian ditemukan dari 17 responden yang mempunyai pengetahuan kurang penyakit ISPA dengan perilaku kurang terdapat 11 responden (30,5%) dan 6 responden (2,16%) pengetahuan orang tua dengan perilaku cukup. Dari 19 responden yang mempunyai pengetahuan baik tetapi perilaku kesehatan kurang terdapat 1 responden (0,36%), pengetahuan orang tua baik tetapi perilaku cukup terdapat 7 responden (2,52) dan pengetahuan orang tua baik kemudian perilaku baik terdapat 11 responden (30,5).

Analisi statistic chi-square didapatkan nilai p=value sebesar 0,000, artinya p=value < 0,05 sehingga terdapat hubungan pengetahuan orang tua dengan perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA. Saran bagi orang tua diharapkan bersedia meningkatkan pengetahuan tentang ISPA sehingga kesadaran dalam hal pentingnya kesehatan bagi anak agar tidak sampai terkena penyakit ISPA. Kata kunci : ISPA, Pengetahuan, Perilaku Kesehatan PENDAHULUAN Salah satu Negara berkembang dengan kasus ISPA yang tinggi adalah Indonesia.

Menempati urutan pertama penyebab kematian ISPA pada kelompok bayi dan balita (Najmah, 2016). Sampai saat ini ISPA masih menjadi masalah kesehatan dunia. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2011 di New York jumlah penderita ISPA adalah 48.325 anak dan memperkirakan dinegara berkembang berkisar 30-70 kali lebih tingg dari Negara maju dan diduga 20% dari bayi yang lahir di Negara berkembang gagal mencapai usia 5 tahun dan 26-30% dari kematian anak disebabkan oleh ISPA.

Di Indonesia, kejadian ISPA tertinggi berada pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa Timur (28,3%). Sedangkan di provinsi Jawa Tengah masih tergolong tinggi dibandingkan dengan provinsi lain, yaitu sebanyak 15,7%. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung sampai alveoli termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek batuk kering atau berdahak (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, 2013). Survey mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2013 menempatkan ISPA sebagai penyebab kematian anak terbesar di Indonesia dengan presentase 32,10% dari seluruh kematian anak-anak, sedangkan di Jateng 28% (2012), 27,2% tahun 2013.

Menurut laporan Riskesdas (2013) bahwa infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) tersebar di seluruh Provinsi Sulawesi Utara dengan bervariasi rerata prevalensi tingkat Provinsi sebesar 20,5%, dengan rentang (12,1–34,6%). Angka ISPA di atas 20% ditemukan di 5 kabupaten / kota diketahui ISPA yang tidak ditangani dengan tuntas dapat berkembang menjadi pneumonia. Di provinsi Sulawesi Utara, secara rerata penyakit pneumonia sebesar 1% di bawah angka nasional (1,88%), dengan rentang 0,5–2,7%.

Angka terendah ditemukan di Kota Bitung dan Kota Tomohon, masing-masing 0,5% dan tertinggi didapatkan di kabupaten kepulauan Talaud (2,7%). Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%), sedangkan terendah pada kelompok umur 1–5 tahun. Cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur. Penyakit ISPA merupakan penyakit urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan pada puskesmas-puskesmas di Kota Manado, yaitu sebanyak 46.077 kasus (Profil Kesehatan Sulut 2009).

ISPA bisa menyebabkan komplikasi atau penyulit, dimana ISPA bisa masuk ke telinga sehingga menimbulkan radang telinga bagian tengah (otitis media), yaitu keluarnya cairan serupa nanah. Selain itu penderita juga berisiko menderita sinusitis atau infeksi dari rongga pipi, bahkan ketika ISPA turun kebawah penderita bisa mengalami bronchitis atau bahkan bronco pneumonia.

Dari data yang diperoleh di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado didapatkan data Bulan Januari sampai dengan Desember 2017 penyakit ISPA pada anak sebanyak 364 kasus. Berdasarkan survey awal yang peneliti lakukan dalam wawancara dengan 5 orang tua anak yang datang di Puskesmas Minanga Kota Manado pada hari senin 20 Januari 2018, mereka mengatakan bahwa tidak mengetahui tentang perilaku kesehatan pada anak dengan penyakit ISPA contohnya seperti membakar sampah dihalam rumah, membuka jendela pada pagi hari dan membiarkan anggota keluarga merokok didalam rumah.

Dari data yang diperoleh, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul hubungan pengetahuan orangtua dengan perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah Analitik Observasional dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan pengetahuan orangtua dengan perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA.

Populasi penelitian adalah orangtua yang membawa anaknya berobat sakit ISPA di poliklinik anak puskesmas minanga malalayang kota manado yang berjumlah 364. Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling dengan metode purposive sampling dengan kriteria tertentu.. Besar sampelnya adalah 10% dari banyaknya jumlah populasi yaitu 36 orang. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner untuk pengetahuan orang tua mengenai penyakit ISPA dan kuesioner perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA.

HASIL Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado dengan tujuan mengetahui hubungan pengetahuan orangtua dengan perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tanggal 2 – 5 Juli 2018, didapatkan 36 responden dengan karakteristik sebagian besar usia 25-35 tahun (61,1%) dengan tingkat pendidikan terbanyak Sekolah menengah atas (SMA) 63,9% dan pekerjaan responden terbanyak adalah tidak bekerja (Ibu Rumah Tangga) sebanyak 66,7% Analisis Univariat terhadap variabel penelitian pengetahuan responden dari 36 orang yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 19 orang (52,8%) dan kurang 17 orang (47,2%).

Sedangkan Hasil penelitian tentang perilaku kesehatan didapatkan bahwa 30,5% responden memiliki perilaku kesehatan yang baik, 36,1% responden memiliki perilaku kesehatan yang cukup dan 33,3% memiliki perilaku yang kurang. Analisis Bivariat antara variabel pengetahuan orang tua dengan perilaku kesehatan anak diuji menggunakan chi-square test didapatkan nilai p 0,001 < a= 0,05 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan orang tua dengan perilaku kesehatan anak yang mengalami penyakit ISPA PEMBAHASAN Berdasarkan umur responden di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado dengan sampel 36 orang.

Sebagian besar yang menjadi menjadi responden dalam penelitian ini ada pada kelompok umur 17-35 tahun sebanyak 32 orang (88,9%). Dimana umur ibu masuk kedalam dewasa awal merupakan puncak dari kondisi fisik yang sangat prima. Semakin dewasa umur ibu yang memiliki semakin meningkat pula ibu dalam berperilaku (Notoadmodjo, 2007). Berdasarkan frekuensi pendidikan menunjukkan bahwa tingkat pendidikan reponden yang memiliki pengetahuan yang paling banyak adalah SMA berjumlah 23 orang (63,9%) ini menunjukkan bahwa dari segi pendidikan sebagian responden baik.

Hal ini juga didukung oleh pendapat Warman (2008), bahwa pendidikan orang tua, terutama ibu merupakan salah satu kunci perubahan social budaya. Pendidkan yang relative tinggi akan memiliki praktik yang lebih terhadap pemeliharaan kesehatan terutama anak-anak. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 36 orang responden di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado, sebagian responden bekerja sebagai IRT sebanyak 24 orang (66,7%). Karena responden sebagian besar ibu, maka mereka memilih untuk tidak bekerja.

Pekerjaan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang mengidentifikasi secara psikologis dengan pekerjaannya atau pentingnya pekerjaan dalam citra diri individu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tanggal 2 – 5 Juli 2018, didapatkan pengetahuan responden dari 36 orang yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 19 orang (52,8%) dan kurang 17 orang (47,2%). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Seseorang dikatakan memahami bila telah mampu menjelaskan tentang objek yang diketahui (Notoadmodjo, 2007). Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik di puskesmas minanga malalayang kota manado. Hal ini di karenakan tingkat pendidikan responden berada pada tingkat pendidkan SMA. Tingkat pendidikan yang tinggi akan memperluas wawasan seseorang sehingga mudah untuk menerima informasi yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Penelitian ini didukung oleh wawan (2010), mengatakan bahwa pendidikan merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat. Hasil penelitian tentang perilaku kesehatan didapatkan bahwa 30,5% responden memiliki perilaku kesehatan yang baik, 36,1% responden memiliki perilaku kesehatan yang cukup dan 33,3% memiliki perilaku yang kurang.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku yang cukup di puskesmas minanga malalayang kota manado. Responden yang memiliki perilaku yang cukup disebabkan karena responden masih kurang mengerti tentang perilaku hidup sehat seperti membuka ventilasi jendela, membersihkan debu yang menempel dimeja atau dikursi yang merupakan suatu tindakan yang baik dalam rangka mencegah terjadinya ISPA pada anak. Menurut Mishra (2005), dalam penelitian Dian Indriani (2012) menyatakan bahwa perilaku ibu dalam pencegahan ISPA dapat dilakukan seperti menjaga anak tetap dalam keadaan bersih, ibu melakukan kebersihan rumah seperti menyapu lantai, membersihkan debu-debu didalam rumah, rutin mengganti seprei kasur dan sarung bantal secara teratur, membuka jendela dan ventilasi udara agar sirkulasi udara tetap lancar serta melarang anggota keluarga yang merokok untuk tidak merokok.

Berdasarkan tabulasi silang antara variable pengetahuan orang tua dengan perilaku kesehatan pada anak, dari 17 responden yang mempunyai pengetahuan kurang penyakit ISPA dengan perilaku kurang terdapat 11 responden (30,5%) dan 6 responden (2,16%) pengetahuan orang tua dengan perilaku cukup. Dari 19 responden yang mempunyai pengetahuan baik tetapi perilaku kesehatan kurang terdapat 1 responden (0,36%), pengetahuan orang tua baik tetapi perilaku cukup terdapat 7 responden (2,52) dan pengetahuan orang tua baik kemudian perilaku baik terdapat 11 responden (30,5).

Uji yang akan digunakan adalah uji chi-square (pearson chi-square). Dari hasil uji pearson Chi-square didapat nilai x²=19,359 dengan p (asmp.sig)= 0,000 <0,05 berarti bermakna, jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna Antara pengetahuan orang tua dengan perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan Antara pengetahuan dengan perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA di puskesmas minanga malalayang kota manado. Menurut peneliti, pengetahuan orang tua (Ibu) dengan perilaku kesehatan tentang penyakit ISPA sudah baik, karena sebagian besar pendidikan mereka tamatan SMA sehingga ibu dapat menerima penyuluhan yang diberikan petugas kesehatan dan informasi yang didapatkan mengenai ISPA baik dari media elektronik dan media cetak serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam merawat dan menjaga anak-anaknya.

Menurut Notoadmodjo (2010), pengetahuan adalah merupakan suatu hasil dari tahu sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indra penglihatan dan pendengaran. Apabila suatu tindakan didasari oleh suatu pengetahuan maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng, sebaiknya apabila tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Selain itu usia responden sebagian besar 25-35 tahun yang termasuk dalam usia produktif juga dapat mempengaruhi pengetahuan yang ibu dapatkan, yakni melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulang kali, jika seseorang memiliki pengalaman yang lebih sering maka akan menghasilkan pengetahuan yang lebih juga.

Hal ini sesuai dengan pendapat Herliansyah (2007), pengetahuan juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulang kali, jika seseorang memiliki pengalaman yang lebih maka menghasilkan pengetahuan yang lebih. Umur sangat mempengaruhi ibu dalam memperoleh informasi yang lebih banyak secara langsung maupun tidak langsung akan menambah pengalaman dan meningkatkan pengetahuan yang dimilikinya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan Indriani Dian (2012) yang menyatakan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan pada balita, namun data menunjukkan belum semua pengetahuan ibu baik demikian juga dengan perilaku, artinya perlu adanya tindakan lebih lanjut baik dari responden sendiri maupun instansi terkait. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putro (2008) yaitu pengetahuan ibu terhadap penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pada balita di Puskesmas Paruga Kota Bima adalah tingkat pengetahuan baik sebesar 20,45%, cukup sebesar 53,40% dan kurang sebesar 26,13%.

Dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu di Puskesmas Paruga Kota Bima termasuk dalam kategori cukup. KESIMPULAN Dari hasil penelitian mengenai “Hubungan Pengetahuan Orang Tua dengan Perilaku Kesehatan Pada Anak yang Mengalami Penyakit ISPA di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado”, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Pengetahuan orang tua (Ibu) tentang penyakit ISPA dalam kategori baik.,Perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA umumnya dalam kategori baik.

Hasil penelitian yang di analisis melalui uji chi-square di temukan p = 0,000 yang lebih kecil dari a = 0,05 yang berarti bahwa ada hubungan pengetahuan orang tua dengan perilaku kesehatan pada anak yang mengalami penyakit ISPA di Puskesmas Minanga Malalayang Kota Manado. SARAN Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti memberikan saran sebagai berikut: Diharapkan orang tua untuk tetap bersedia meningkatkan pengetahuan tentang ISPA sehingga dapat meningkatkan kesadaran dalam hal pentingnya kesehatan bagi anak agar tidak sampai terkena penyakit ISPA.

Kemudian untuk puskesmas minanga diharapakan, dapat terus memberikan penyuluhan dan informasi lebih lanjut terhadap masyarakat terutama ibu-ibu tentang ISPA pada anak dengan baik dan benar. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi tentang penyakit ISPA dan perilaku kesehatan, selain itu penelitian ini juga dapat dijadikan gambaran dalam pengembangan penelitian lainnya. DAFTAR PUSTAKA Herliansyah, 2007. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan.

Jakarta: Salemba Medika Hardiyanti, Indriani Dian, (2012). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Dengan Perilaku Pencegahan Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tirto II Kabupaten Pekalongan. Universitas Muhammadiyah Surakarta Kementerian Kesehatan RI (2014) Profil Kesehatan Indonesia 2013. www.depkes.go.id/resources/.../profil-kesehatan.../profil-kesehatan-indonesia-2013.pd.. Najmah, (2016). Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta Timur : CV. Trans Info Media Notoadmodjo, S. (2010). Etika dan Hukum Kesehatan.

Jakarta : Rineka Cipta Putro, (2008). Pengaruh pendidikan kesehatan tentang penatalaksanaan ISPA terhadap pengetahuan dan keterampilan ibu merawat balita ISPA dirumah. [journal].stikestelogorejo : Ilmu Keperawatan Profil Kesehatan SULUT (2009), https://dinkes.sulutprov.go.id/wp-content/uploads/2017/05/Buku-Profil-Kesehatan-Sulut-2009.pdf. Riskesdas.(2013). Hasil Riskesdas. Available from http://www.depkes.go.id/resources/ download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf. Diakses 25 Januari 2018 Warman (2008).

Hubungan Faktor Lingkungan, social Ekonomi dan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian ISPA Pada Balita Dikelurahan Pekan Arba Kecamatan Tembilahan. Karya Tulis Ilmiah : Palembang Wawan, A. (2010). Teori dan Pengukuran, Sikap dan Perilaku Manusia. Yogyakarta : Nuha Medika. Lampiran Tabel 1 Karakteristik Responden Di Poliklinik Anak Puskesmas Minanga Karakteristik Jumlah Persentase umur 17-25 tahun 10 27,8%   25-35 tahun 22 61,1%   36-45 tahun 4 11,1%  Pendidikan SD 1 2,8%   SMP 5 13,9%   SMA 23 63,9%   Perguruan Tinggi 7 19,4%  Pekerjaan IRT 24 66,7%   Swasta 9 25%   PNS 3 8,3%   Tabel 2.

Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Orang Tua dengan Perilaku Kesehatan Pada Anak Pengetahuan Perilaku Kesehatan Total Persen p- value   Kurang Cukup Baik     Kurang 11 6 0 17 47,2 %   Baik 1 7 11 19 52,8% 0,001  Total 12 13 11 36 100 %